Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2015

Jadi Sebenarnya Apakah Kita 'Cinta'?


Hmm... Jadi ceritanya akhir-akhir ini saya mulai tertarik dengan pembahasan mengenai cinta. Sebenarnya pembahasan mengenai cinta ini sudah menarik perhatian saya sejak dulu, tapi entah kenapa mulai mencari tahu dan benar-benar penasaran itu baru akhir-akhir ini. Yaa biasalah, dikarenakan saya mendapat tambahan ilmu dari belajar Psikologi Perkembangan II. 

Sebelumnya, sebelum saya belajar Perkem II, saya sering mendengar perasaan sejenis suka, sayang, cinta, kasih, jatuh cinta, cinta monyet, dan kawan-kawannya yang lain. Semua jenis perasaan itu yang sering diucapkan oleh orang Indonesia. You know, in English, all of that is love, right? Ya palingan ada kata-kata like, love, dan falling in love gitu kan? Perbedaan di antara semuanya tak terlalu terlihat. Setidaknya tak terlalu dipahami oleh orang seperti saya ini. Yang selama (hampir) 20 tahun masih saja dibingungkan oleh jenis-jenis perasaan 'sejenis' cinta.

Kemudian...setelah 19 tahun mempertanyakannya, di semester lalu saya cukup mendapat pencerahan. Sekaligus bikin tambah bingung sih. Disini, di mata kuliah Psikologi Perkembangan II itu, ada salah satu materi mengenai 7 Types of Love. Saya tak begitu ingat penjelasan lengkapnya, jadi saya sedikit (atau mungkin banyak) meminta bantuan paman gugel dan kemudian saya pun menemukannya. 

Dari sumber yang saya dapatkan (disini), disebutkan ada 7 tipe dari cinta ini. Nah, kesemua tipe itu bisa dibentuk oleh 3 dimensi. Kira-kira 3 dimensi itu bisa diilustrasikan seperti gambar ini:


Pertama, intimation. Intimasi ini dapat berupa kedekatan, keterikatan, dan terbentuknya ikatan emosional yang kuat. Kedua, commitment. Komitmen ini bisa dikatakan juga sebagai keputusan kita untuk tetap mempertahankan suartu hubungan. Yang terakhir itu passion. Ini bisa disebut juga sebagai hasrat/gairah seksual kita kepada pasangan. Ya taulah ya maksud saya seperti apa. 

Nah, itu dia ketiga dimensinya. Masing-masing tipe dari cinta menurut Sternberg ini bisa dibentuk oleh satu, dua, atau kesemua dimensi tersebut. Berdasarkan tingkat 'ketinggian' dimensi (sejauh mana dimensi itu berperan dalam suatu hubungan) tersebut, disebutkan ada 7 jenis hubungan percintaan (love relationship).

1. Liking : tinggi hanya pada intimasi (biasanya ada pada hubungan persahabatan)
2. Romantic : tinggi pada intimasi dan gairah (mungkin yang sejenis pacara-pacaran anak muda jaman sekarang)
3. Companionate : tinggi pada intimasi dan komitmen (biasanya ada pada hubungan kita dengan keluarga)
4. Empty : tinggi hanya pada komitmen (semacam hubungan yang dilakukan karena alasan kekeluargaan, hidup terpisah tapi masih dalam satu atap)
5. Fatuous : tinggi pada gairah dan komitmen (biasanya terjadi pada pasangan yang dijodohkan)
6. Infatuated : tinggi hanya pada gairah (hmm... sejenis 'cinta pada pandangan pertama' mungkin?)
7. Consummate : tinggi pada ketiga dimensi (nah, ini dia tipe cinta yang paling diinginkan banyak orang)

Tipe-tipe cinta inilah yang saya dapatkan dari salah satu mata kuliah favorit saya di Psikologi. Sayangnya materi mengenai cinta ini hanya dijelaskan secara sekilas, jadi sebenarnya masih ada di beberapa bagian yang belum begitu saya pahami. Tapi setidaknya sudah mulai terbedakan lah jenis-jenis perasaan yang kita rasakan pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda. 


Ketujuh tipe cinta itu mungkin bisa cukup dibedakan, tapi bagaimana dengan istilah yang tidak disebutkan pada ketujuh tipe cinta di atas? Bagaimana dengan perasaan dalam Bahasa Indonesia yang kita kenal dengan istilah sayang? kasih? dan cinta itu sendiri? Apa sebenarnya kesemuanya itu adalah perasaan cinta dengan penggunaan istilah yang berbeda-beda? Dan kenapa orang-orang masih membedakan 'aku suka dia', 'aku cinta dia', 'mungkin ini bukan cinta, tapi hanya perasaan sayang'? Sebenarnya perbedaan jelasnya berada dimana?

Mungkin kita juga dikenalkan dengan tiga jenis cinta pada pelajaran Agama. Cinta kepada Allah. Cinta Kepada sesama manusia. Cinta kepada diri sendiri. Kesemuanya menggunakan istilah 'cinta' kok. Tidak ada kata suka, sayang, atau kasih. Ataukah itu hanya berbeda dalam menerjemahkan kata bahasa Arab ke bahasa Indonesia?

Ya, makin lama saya jadi makin bingung sendiri. Mungkin saya butuh teman diskusi? Hmm? Ada yang mau berdiskusi dengan saya?


Senin, 05 Januari 2015

Sebuah Kisah

Kisah ini bermula di saat tokoh utamanya berada pada masa yang katanya masa pencarian jati diri. Masa dimana manusia ingin mencoba hal-hal yang baru demi menemukan jati diri yang sebenarnya. Masa dimana sang tokoh utama juga mencoba melakukan hal itu. Mencoba mencari 'dirinya' di dunia yang baru ia ketahui ada. Di saat ia haus akan afeksi dan inginkan intimasi. Dan ternyata, ia menemukan hal itu.

Awal perkenalan sang tokoh utama ini dengan seseorang yang akan disebut Shin ini bisa disebut langka, siapa menduga dari hal itu malahan akan membawa mereka menuju suatu keadaan yang mungkin saja mereka inginkan saat itu. Ya, saat itu saja. Setidaknya untuk Shin. Mereka mulai saling bercerita, dari hal yang umum sampai hal yang lebih privasi. Entahlah apa yang membuat pembicaraan mereka berjalan dengan sangat baik. Sangat baik sampai sang tokoh utama mulai terbawa akan suasana. 

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya 'pertemuan' langka itu menjadi awal dari kedekatan mereka. Hanya menunggu waktu sampai mereka mulai terbiasa dan merasa nyaman. Ya, hanya lewat cerita tanpa tatap muka. Hanya lewat dunia maya, yang menurut sang tokoh utama terasa sangat nyata dan begitulah waktu berjalan. 

Seiring bertambahnya rasa nyaman bercerita, semuanya berlanjut kepada suatu pengakuan. Pengakuan yang saling berbalas. Maka berlanjutlah cerita ini sampai setahun lebih lamanya. Sekali lagi, hanya lewat cerita tanpa tatap muka. Mungkin sesekali lewat suara, selebihnya? Berupa tulisan yang hanya bisa dibaca. Tapi oleh sang tokoh utama diabadikan. Ia merasa ada waktunya ia akan kembali membaca semua tulisan dalam bentuk pesan itu. Sampai tiba saatnya ia mendapatkan tulisan dalam bentuk surat. Betapa senangnya sang tokoh utama saat itu. Atau bahkan mungkin sampai saat ini.

Banyak hal yang terjadi seiring berjalannya waktu. Rasa senang sekarang ditemani oleh rasa sakit. Rasa sakit yang mungkin memang disebabkan oleh sang tokoh utama itu sendiri. Rasa sakit yang disebabkan oleh perasaan yang mungkin tak seharusnya dimiliki oleh sang tokoh utama. Rasa sakit yang disebabkan oleh keputusan yang mungkin tak seharusnya dipilih oleh sang tokoh utama. Tapi bodohnya ia tak menyesali hal itu. Mungkin awalnya ia memang mengutuk-ngutuk Shin atas semua yang terjadi. Akan tetapi setelah ia berpikir kembali, itu bukanlah salah Shin, itu adalah salah dirinya sendiri. Dia yang tak mau menerima kenyataan yang jelas-jelas sudah diperlihatkan kepadanya. Dia yang bersitegas untuk tetap mempertahankan. Bukan bagaimana hal itu bisa bermula yang disesalkan oleh sang tokoh utama, melainkan bagaimana hal itu bisa berakhir. Berakhir dengan meninggalkan berbagai kebodohan dan keegoisannya. 


Saat ini bagaimana keadaan sang tokoh utama dan Shin? Mereka baik-baik saja. Hanya saja sekarang tak lagi saling bercerita. Tentunya semua telah berubah. Hari-hari yang dijalani sang tokoh utama mengalami perubahan yang cukup besar. Berikut dengan pemikirannya akan hubungan dan kapan seharusnya hal itu boleh dimulai. Mungkin ia dan Shin memang hanya bercerita tanpa tatap muka. Tapi mungkin itu tetaplah salah. Mungkin karena itulah hal itu berakhir. Tapi (lagi), kenapa sang tokoh utama merindukan saat-saat itu kembali? Hahahaha mungkin ia sudah lelah dengan semua ini. Bye. 

Jatinangor, 19 Desember 2014

Selasa, 16 Juli 2013

Kau Bukan Satu-Satunya

Tetesan berkah itu pun turun
Seiring dengan kembalinya kenangan tempo dulu
Cerita yang inginnya terlupa
Tapi tak kunjung nyata adanya
Seperti menghitung tetesan langit
Begitu pun dengan kenangan itu
Sulit terupa

Ku telah mencoba meyakinkan hatiku
Kau tak terjangkau lagi olehku
Tapi seakan-akan terabaikan
Hati melawan logika
Yang menang?
Hati

Aku memang bukan orang yang suka logika
Tapi situasi ini memaksaku memohon
Seperti halnya petani mengharapkan hujan untuk sawah mereka
Aku berharap logika meyakinkanku bahwa kau bukan satu-satunya
Kenangan itu...
Akan kuganti dengan yang baru
Bersama 'teman hidupku'...

Hn.
Ichirth
30 Juni 2013

Selasa, 04 Juni 2013

Farewel Party Cafladupa 2013 “Sitabuah nan ka Tingga”



Tak terduga tiga tahun sudah berlalu. Masa-masa SMA pun sebentar lagi akan berlalu, masa aktifnya pun sudah akan berakhir. Suka duka selama di SMA, masa-masa yang tak kan pernah terlupakan. Semuanya, mulai dari saat-saat mendaftar di SMA yang diinginkan, menunggu pengumuman penerimaan, melewati masa-masa MOS, mencari teman baru, pergaulan baru dan lingkungan yang baru. Semua itu sebentar lagi akan sampai di titik pemberentian akhir. Sungguh tak terduga. Rasanya baru beberapa waktu yang lalu merasa deg-deg-an karena takut tidak mempunyai teman di SMA. Rasanya juga baru beberapa waktu yang lalu merasa sangat senang karena dapat kembali merasakan saat-saat menjadi murid nomor satu di kelas, posisi yang tak pernah bisa kuraih selama di SMP dulu. 

Ada beberapa hal yang tak akan pernah kulupakan dari masa-masa SMA ini. Pertama tentunya adalah persahabatan. Berada di antara orang-orang terdekat, berbagi canda dan tawa, duka dan lara, saling mengerti dan memahami. Tertawa bersama-sama dan saling berbagi kesedihan. Sungguh ikatan yang kuat dan erat. Terima kasih sahabat-sahabatku.



Sri Astuti, si keras kepala yang tegas akan jalan pikirannya, anti dengan yang namanya ‘dianggap remeh’, selalu berambisi kuat dan sampai saat terakhir masih menyimpan hati kepada sang mantan, Yandra Prawinata. Tapi aku akui, karena sifat yang dia punya inilah aku merasa ‘terlengkapi’ dengan kehadirannya.

Lidya Mayang Sari, si pendiam yang awalnya pemalu tetapi seiring dengan berjalannya waktu berubah menjadi pribadi yang cukup narsis dan cerewet. Salah satu teman sesama pecinta Kpop. ‘Istrinya’ Minwoo “Boyfriend”. 

Hanaco Arga Messa, si plin plan. Hehe. Maaf cha. Tapi ya itu menurutku. Masih belum begitu tergugah untuk berhijab. Semoga suatu saat nanti disaat kita reunian, aku sudah melihatnya menutup rambut indahnya dengan jilbab yang tak kalah indah. Aamiiin. 

Gita Iloni Putri, si cerewet yang suka sekali bercerita. Kalau sudah membuka mulutnya untuk mulai berbicara, maka akan susah untuk menghentikannya, selalu saja ada bahan pembicaraan. Hehe. Tapi itulah Gita yang kukenal. 


Berlian Putri Sutrisno, si cantik yang hobi sekali ngedit-ngedit foto. Bubu-nya M.Fadli Rofinda nih, si jagoan basket Kampus Flamboyan. Aku akui dia memang terlihat anggun, tapi tak ada manusia yang sempurna. Tulisan Beber ini terkadang sulit untuk ‘diterjemahkan’. Hehe. Peace...


Uci Sri Wahyuni, si pencinta sajak dengan senyum ala pepsodennya. Terobsesi dengan kata-kata indah yang kaya makna. Mudah beganti-ganti mood dalam waktu singkat. Terkadang aku pun menjadi sulit untuk ‘mengikuti’nya. 

Rika Febrianti, si kutilang yang sudah 3 tahun bertahan dengan sang ‘sy’ bernama Tono. Karena alasan itulah kami memangilnya ‘bang Ton’. Semoga langgeng terus sama si sy-mu. Ditunggu undangannya. Tapi satu saran buat Rika, jangan terlalu lama bersemedi di depan cermin yah. Hehe.

Sri Armiliya F.N, si pendiam di luar tapi setelah ditelusuri ternyata juga mempunyai sifat ‘usil’ dengan kejadian tak terduga yang dilakukannya. Teman seper-tinggi-an denganku. Hehe. Soalnya kalau sudah pergi bersama-sama dengan teman-teman lainnya, kami yang terlihat paling pendek. Ckckck...

Widya Ananda Putri, si kurang pedulian dengan lingkungan sekitar yang suka perhitungan kalo soal hutang pulsa. Ya, meskipun ia mempunyai alasan tersendiri, tapi seharusnya kalau sesama teman itu harus saling mempercayai dong, kami pasti bayar pulsanya kok, Widya.



Selain hubungan persahabatan, di masa-masa terindah ‘kata orang’ ini ada juga yang dikenal dengan ‘cinta monyet’. Aku hasa hampir setiap orang merasakan perasaan yang satu ini. Dijodoh-jodohkan oleh teman-teman sekelas entah karena dasar apa. Perasaan yang dulunya tak ada, perlahan-lahan mulai tumbuh dan bersemi. Dalam hal ini, Mr.1412 adalah cowok yang ‘dipasangkan’ denganku secara sepihak oleh teman-teman sekelas. Kalau masalah asal muasal Mr.1412 ini sudah pernah kutulis dalam sebuah tulisan tersendiri disini. Ehm. Di saat Farewel Party Day-2 ini, aku mempunyai beberapa kejadian bersama dengannya.

Nah, di SMA 2 Payakumbuh atau yang terkenal dengan nama Cafladupa atau Kampus Flamboyan ini ada sebuah ‘kebiasaan’ glamour yang dilakukan oleh murid-murid kelas XII yang akan meninggalkan lingkungan kampus. Kebiasaan itu adalah memakai ‘pakaian kelas’ yang telah disepakati bersama dan kemudian memakai pakaian itu saat berjalan di karpet merah sambil menggandeng ‘pasangan’ masing-masing. Dalam hal ini, kembali aku ‘dipasangkan’ dengan Mr.1412. Yaa, aku ga mau jadi orang munafik, jadi jujur saja aku sangat senang sekali saat Icha (Annisa Mardhatillah) menyeretku untuk berdiri di sebelah doi. Singkat cerita (kalo belum baca tulisanku mengenai doi), Mr.1412 ini menjadi salah satu nominasi murid ter-religius di Cafla Award. Tentunya tidak mungkin kami akan gandengan seperti ‘pasangan’ lainnya. Eits, tapi tunggu dulu. Ini bukan hanya karena Mr.1412 yang religius, tapi aku juga tak suka dengan hal-hal seperti ini. Ga muhrim kan. Untung saja aku dipasangkan dengan cowok yang ‘sejalan’ denganku, anti kontak fisik dengan lawan jenis. Dengan bijaknya doi berkata begini, “Chi, wak biaso-biaso seh lah yo.” Maksudnya kami tu jalan biasa saja, ga usah pakai gandengan tangan segala. “Yo mat, tanang seh lah,” balasku. Aku setuju dengan ucapannya. Dan akhirnya kami jalan berdampingan dengan jarak yang terjaga. Beberapa percakapan kami lainnya saat berdiri berdampingan.

“Ndeeh, lai lah di muko Fadli tagak yo,”
“Fadli?”
“Yo Chi, nyo yang ka marekam wak,”
“Ha, mantap tu mat,”
-----
“Mat, jan capek-capek bana jalan yo,”
“Baa tu eh?”
“Takuik tajatuah ichi,”
“Tinggi bana sepatu Chi?”
“Iyo, sepatu ama Ichi yang Ichi pakai,”
-----

Haha. Hanya itu saja yang teringat olehku. Selebihnya kami hanya berjalan dalam diam di atas karpet merah sambil aku sesekali saltingan karena perasaan senang campur gerogi. Yaa, aku berharap semoga sikap ‘beda’ku itu tak terbaca oleh orang yang melihat kami. Semoga aku tidak melakuakn hal yang memalukan. Aaamiiiin... Oia, satu lagi ‘kenangan’ cinta monyet SMA-ku. Aku berfoto berdua dengan Mr.1412.... Yeeeeeeeyyyyyy!! Bahagianya duniaaaaa... 


Ichi.rth ^^

Rabu, 24 April 2013

Shin & Ichi (Tentang Kita)


Hai, dunia. Perkenalkan aku Suci Husnia Sadri, ah bukan, aku... Ichi Ryuu Uchiha. Ichi Ryuu Uchiha yang akan selalu mencintai Shin Ryuu Uchiha. Ya, hanya Shin Ryuu Uchiha, bukan Kyoushin Shirotenza apalagi Ristiawan Hidayat. Sepertinya Ichi Ryuu Uchiha sajalah yang akan abadi. Ya, akan abadi. Tempat dimana seorang Suci Husnia Sadri hanya akan mencintai satu orang saja. Orang yang ‘hanya’ mendapat juara 1 di kelasnya, orang yang mau mengubah status hubungannya dengan seorang teman demi untuk menolong teman itu ‘memberikan pelajaran’ untuk seseorang. Orang yang awalnya memperkenalkan diri sebagai Riztian Tandika Hidayat, RTH-ku yang akan selalu abadi di setiap *** akun situs sosialku. Orang yang telah mengisi hari-hariku sampai beberapa bulan yang lalu. Orang yang sukses memenuhi hatiku sampai...sampai saat aku menulis tulisan ini. Bahkan mungkin selamanya. Ya, selama nama Ichi Ryuu Uchiha pemberian orang itu ada. Dan aku tak berniat untuk menghilangkan nama itu. Orang mengenalku dengan nama itu, dan selama itu pula orang akan mengenalku sebagai seorang  pengagum Shin Ryuu Uchiha, ah bukan...tetapi pengagum Ristiawan Hidayat. Aa yang paling kusayangi. 


Aku Ichi dan orang itu adalah Shin-ku. Dan jika nama kami disatukan akan menjadi ShinIchi. Orang itu mengatakan kalau Shin bisa diartikan hati dan Ichi, aku tahu itu artinya satu. Itu berarti ‘satu hati’. Haha... Kedengarannya indah bukan? Tapi itu hanya sekedar nama dan mungkin akan selamanya begitu. Dulu...mungkin dia pun menyukai hal itu. Ya, mungkin, karena aku tidak bisa memastikannya. Karena nyatanya saat itu hatinya tidak hanya satu untukku, tapi ia bagi untuk orang lain. Bahkan mungkin hati untukku perlahan dilepas untuk diberikan sepenuhnya untuk orang lain, orang yang ternyata sudah terlebih dahulu mengisi hati Shin-ku, RTH-ku. Aku tidak bisa menyalahkan orang itu bahkan keadaan yang terjadi bukanlah penyebab dari semua ini. Hal satu-satunya yang bisa menjadi penyebab semua ini adalah takdir. Takdirlah yang membuat RTH-ku menyukai orang itu. Takdirlah yang membuatku datang lebih lama ke dalam hidup RTH-ku. Dan takdir pulalah yang akhirnya membuat hubungan kami berhenti, hubungan yang selama lebih dari satu tahun aku perjuangkan. 

 

Aku Ichi dan kenanganku bersamanya. Hubungan yang hampir 2 tahun kami jalani. Ya, setidaknya aku sudah melewati satu hari lahirku bersamanya. Hari dimana aku  dilahirkan ke dunia ini dan telah ditentukan jodohku oleh Yang Maha Kuasa. Aku tidak berani mengatakan kalau orang itu adalah jodohku. Karena mungkin nyatanya begitu. Tapi setidaknya aku berusaha menjadikannya seperti itu...selama hampir 2 tahun lamanya. Sayangnya mungkin semua itu hanyalah perbuatan yang sia-sia saja. April 2010, kami saling mengenal tanpa sengaja. Rasa penasaran menuntunku untuk menyapa orang itu dan 20 Mei 2010, dia menyatakan perasaannya padaku. Entahlah. Mungkin saja perasaannya saat itu nyata adanya dan mungkin saja tidak. Kalau pun memang perasaan itu nyata, tidak untuk selamanya. Agustus 2010, pada akhirnya RTH-ku menjalin hubungan lain dibelakangku dengan seseorang yang sudah terlebih dahulu mengisi hatinya, sebut saja orang itu K. 
 

Hubungan mereka terbongkar November 2010. Aku menghabiskan 23 halaman diary hanya untuk meluapkan perasaanku saat itu. Bohong jika aku tidak menyelipkan kata-kata kasar hampir di setiap halaman. Tapi kalian tahu, setelah umpatan-umpatan yang aku torehkan disana, di bagian akhir diary itu aku menyelipkan do’a. Do’a agar hubungan kami memang lanjut dengan adanya kejujuran dan kepercayaan. Haha. Saat ini aku hanya bisa menertawakan kalimat harapan itu. Karena lagi-lagi pada kenyataannya semua yang terjadi tidaklah seperti yang aku harapkan. Setelah lama aku mempertahankan hubungan itu, pada akhirnya hubungan itu berakhir tepat tanggal 2 Oktober 2011. Dan tak beberapa lama setelah itu, mereka kembali menjalin hubungan. Kali ini bukan lagi hubungan gelap, tapi terang, sangatlah terang menyilaukan sampai-sampai aku tak bisa melihat jalan yang ada di depanku. Lalu singkat cerita, setelah beberapa bulan, hubungan mereka pun berakhir. Meskipun aku sudah memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan yang seperti itu, tapi tetap saja keinginan itu muncul dari hati terdalamku, keinginan untuk kembali bersamanya. Sayangnya semua itu sia-sia dan kembali aku harus mengubur dalam-dalam harapanku. Kalian tahu kenapa? Karena ternyata dia sudah menemukan orang itu. Orang yang bisa dilihatnya setiap hari. Orang yang bisa ia genggam tangannya. Orang yang bisa ada disampingnya disaat ia sakit. Orang yang bisa menemaninya langsung disaat ia menginginkannya. 

 

Dia telah menemukan orang yang jauh berbeda denganku. Aku tidak bisa memberikan semua yang orang itu bisa berikan padanya. Aku memang tidak bisa bertemu langsung dengannya, ya setidaknya belum. Tapi meskipun begitu, aku memliki satu hal yang bisa aku janjikan berbeda dari orang lain. Aku memiliki cinta yang begitu besar terhadapnya, melebihi orang lain, melebihi K maupun orang itu. Buktinya? Cukup jelas. Bahkan setelah dia ‘mengabaikan’ku, aku masih saja melihatnya. Setelah dia melanggar semua janji yang telah ia ucapkan sendiri padaku, aku masih saja memiliki perasaan ini terhadapnya. I still love him, always. Sampai saat ini, menit ini, detik ini. Saranghae yo yongwohni. Aa-koi wa daisuki desu, zutto...


Ichi.rth

Sabtu, 03 November 2012

Believe




Betapa rindunya aku akan saat-saat yang seperti ini. Disaat aku mengingat tentang dirimu. Kau tahu, aku masih menyayangimu sampai sekarang. Tidak ada yang berubah dengan perasaan ini. Walau kita tidak pernah bertemu, tetapi aku yakin kau itu nyata. Kaulah satu-satunya yang bisa membuatku sampai seperti ini. Entahlah. Disaat seperti ini selalu saja dirimulah yang terlintas di pikiranku, disalurkan melalui hatiku dan disampaikan melalui air mataku. Betapa aku merindukanmu.

Tetapi kau adalah seorang pembohong. Kau bilang akan menghubungiku. Kau bilang tidak ingin ada yang berubah. Tapi apa? Kau melakukan semua itu. Kau sendiri yang mematahkan kata-kata itu. Aku disini masih sama. Mungkin memang tak semurni ‘menunggu’. Kuakui aku mencoba mencari penggantimu. Tapi apa yang kudapat? Tidak ada. Tidak bisa kutemukan disini orang sepertimu. 

Akhir yang bahagia. Akankah suatu hari nanti aku bisa mendapatkan cinta yang bahagia? Setelah semua kisahku berakhir tak menentu. Tak ada yang bisa diharapkan. 

Tetapi, sepertinya semua pemikiran itu harus aku hilangkan. Karena...mungkin dibalik semua itu, aku masih mempunyai satu pengharapan. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang diciptakan dengan sia-sia. Semuanya bermakna dan memiliki hikmahnya masing-masing. Aku harus percaya. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Suatu hari nanti, semua yang telah aku lakukan ini pasti akan dibalas dengan sesuatu yang indah. Ya, sesuatu yang indah tengah menungguku. Aku harus percaya akan hal itu. 

Allahku, Maha Besar... :)

Hn.
Ichi.rth

Minggu, 08 April 2012

Love Story About Me



Benar kata orang-orang.. Cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Dan sekarang, aku percaya akan hal itu.

Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai salah satu diantara teman-temanku. Ya, hanya sekedar teman. Kami kebetulan mempunyai ketertarikan yang sama yaitu sama-sama tertarik atau bisa dibilang menyukai Det. Conan, salah satu dari anime serial detektif dari Jepang sana. Dan saat itu pembicaraan kami hanya terbatas dengan hal ‘analisa’ logika saja. Aku cukup tertarik padanya karena ternyata ada orang yang mempunyai hobi sama denganku yaitu menyukai anime Jepang. Karena kebetulan di sekolahku waktu itu tidak banyak peminatnya.

Selanjutnya, aku pun menamatkan jenjang SMP dan memilih masuk SMA dari pada MAN. Dan tak kuduga, ternyata dia juga memilih masuk sekolah yang sama denganku. Ya, suatu kebetulan pastinya. Dan pada saat inilah perasaanku mulai berubah.


Perasaanku yang awalnya hanyalah ketertarikan biasa berubah jadi kekaguman. Tahu kenapa? Karena setelah memasuki SMA, dia benar-benar berubah. Prestasinya melonjak. Ia mendapati peringkat umum untuk murid tingkat 1 alias kelas X. Sungguh pesat sekali kemajuannya. Padahal dulu sewaktu di SMP, prestasinya tidak begitu hebat. Setidaknya disaat kelas IX, aku mendapat peringkat diatasnya.  Tapi sekarang aku kalah.

Dan bukan hanya itu saja. Dia mulai menampakkan keaktifannya di organisasi ROHIS (Kerohanian Islam) di sekolahku. Dari sana aku tambah kagum dengannya. Jarang-jarang ada siswa SMA yang memilih organisasi Islam seperti itu ketimbang organisasi ROHIS, dsb. Di tahun pertama ini, ternyata aku memilih ekstrakurikuler yang sama dengannya yaitu ICT. Jadi, setiap hari Jum’at pada saat jam pengembangan diri, kami berada pada suatu ruangan yang sama yaitunya Labor Komputer. Tapi pada saat itu perasaanku memang hanya sebatas kekaguman karena dia memang patut untuk dikagumi.


Lalu di tahun berikutnya, disaat aku menduduki kelas XI, ternyata aku sekelas dengannya. Tidak bisa kujelaskan bagaimana perasaanku saat itu. Senang atau justru khawatir. Aku senang karena bisa sekelas dengan orang yang kukagumi. Tetapi di lain pihak aku khawatir karena sekelas dengan orang yang kukagumi. Karena otomatis aku pasti akan berebut posisi peringkat pertama di kelas dengannya. Karena kebetulan aku juga peringkat pertama di kelasku sebelumnya dan dia pun demikian. 
Tapi ternyata kekhawatiran itu lama-lama hilang karena ditutupi oleh perasaan senang. Ternyata aku tepat dalam memilih orang yang kukagumi. Selain memang pintar di akademik, pandai berbicara, aktif di organisasi dan yang tak kalah penting adalah tingkat keagamaannya memang lebih tinggi dari pada anak SMA pada umumnya. Itulah yang benar-benar membuatku salut padanya. Tapi sekali lagi, perasaanku masih sebatas kagum pada kelebihan yang ia miliki.

Waktu terus berjalan dan perasaanku semakin ‘berbeda’. Apalagi setelah ada insiden luar biasa yang terjadi di kelas yang berhubungan antara aku dengannya. Tahu itu apa? Insiden itu adalah ‘ditertawakan’ dalam artian kami dibilang pasangan! Ya ampun, aku sungguh tidak mengira semua akan berkembang sampai sejauh ini. Dan aku kira pembicaraan ini hanya akan bertahan beberapa waktu saja, tapi ternyata ada-ada saja hal-hal yang membuat mereka membicarakan hubungan antara aku dan dia. Apa yang harus aku lakukan?


Sedikit bercerita, dalam masa-masa aku kenal dengannya (sebut saja dia A), aku juga mengenal seseorang yang saat itu aku anggap istimewa. Aku sempat menjalin hubungan dengan orang itu selama lebih dari satu tahun. Ya, hal itulah yang membuat perasaanku terhadap A hanyalah sebatas kagum dan tidak lebih. Tapi kemudian sesuatu terjadi antara aku dan orang yang aku anggap istimewa itu yang membuatku benar-benar sakit hati. Kalian tahu? Itu adalah sebuah penghianatan yang pastinya tidak pernah diinginkan oleh semua orang yang tengah menjalin suatu hubungan. Kejadian itu benar-benar membekas untukku karena itulah pertama kalinya aku disakiti oleh perasaan yang orang namai ‘cinta’. Dan itu jugalah yang membuatku tidak ingin lagi terlibat dengan cinta yang hanya akan berujung kesakitan.


Tapi harapanku tidak terkabul. Lagi-lagi aku terjebak dalam perangkap sakitnya cinta. Atau setidaknya seperti itulah kira-kira yang aku rasakan sekarang ini. 

Cinta dapat tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Tanpa sadar, karena setiap yang aku lakukan selalu dihubung-hubungkan dengan si A, lama-lama perasaanku mulai berubah. Dan perasaan ini berubah kearah yang sebenarnya tidak kuharapkan bisa kurasakan lagi. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Tapi apa yang bisa kulakukan, perasaan itu tidak bisa lagi aku elakkan. Situasi benar-benar membuatku terjebak dengan rumitnya perasaan ini. Dan dia, yang juga tidak menunjukkan penolakan terhadap semua itu, membuatku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku ini. Aku benar-benar tak berdaya.

 

Ya, tidak apa-apa selama yang terlibat disini hanyalah aku, dia dan mereka yang menertawakan kami. Tapi ini berbeda. Perasaanku ini seakan-akan menunjukkan bahwa aku juga telah menghianati temanku. Karena pada kenyataannya, teman atau bahkan bisa dibilang sahabatku juga menyukainya. Bahkan dia sudah jauh lebih dulu menyukainya dibandingkan aku. Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Siapa yang bisa disalahkan atas semua ini? Aku? Dia? Sahabatku? Teman sekelasku? Ataukah keadaan? 

  

Sampai sebelum suatu kejadian terjadi, aku masih bisa mengendalikan perasaanku antara membuat bahagia diriku sendiri saat berada di kelas, dan juga membahagiakan sahabatku diluar sekolah dengan bercerita mengenai betapa hebatnya orang yang ia (dan aku) cintai. Tapi sekarang berbeda. Berbeda disaat semua mulai tersebar.

Sahabatku yang lain (sebut saja dia S) menceritakan mengenai sahabatku yang menyukai si A kepada salah seorang teman sekelasku. Dan hal itu berakibat pada apa yang baru saja terjadi hari ini di sekolahku. Temanku mulai menghubung-hubungkan sahabatku dengan si A. Dan tahu apa yang temanku itu katakan padaku? Ia berkata jika aku ingin terlepas dari si A (dalam artian tidak dipasangkan lagi dengannya), maka aku harus mendukungnya untuk menghubungkan si A dengan sahabatku yang menyukai si A itu. Bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan? Membohongi perasaanku dan menyakiti hatiku perlahan dengan mengatakan aku ingin terlepas dari si A? Orang yang ternyata saat ini telah aku cintai? Tidak. Aku benar-benar bingung sekarang.


Kenapa teman sekelasku harus tahu mengenai sahabatku itu? Kenapa tidak hanya aku yang mereka hubungkan dengan si A? Aku tidak menyukai keadaan ini.. Aku dibanding-bandingkan dengan sahabatku itu? Lalu aku yang harus menunjukkan bahwa aku mendukung mereka berdua? Kemudian aku akan merasakan sakit lagi karena membohongi perasaanku? Akh, sungguh bukanlah suatu pilihan yang menyenangkan.

Bukannya aku tidak punya perasaan dengan menyukai orang yang juga disukai sahabatku. Tapi keadaanlah yang membuat semuanya jadi begini. Kenapa aku harus selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit begini? Setelah semua kebahagiaan yang bisa aku dapatkan setelah terlepas dengan kesakitanku sebelumnya, haruskah sekarang aku merasakan sakit lagi? Aku sudah tidak sanggup lagi menahan semua ini.

 
Tapi aku benar-benar kecewa dengan si T yang telah menyebarkan semua ini. Sebagai sahabatku selama di SMA ini, tidakkah ia bisa membaca isi hatiku? Tidakkah ia bisa mengetahui bagaimana perasaanku terhadap si A? Tidakkah ia tahu kalau aku menyukainya? Kenapa ia harus menyebarkan sesuatu yang jelas-jelas akan membuatku sakit? Apakah dia tidak tahu apa saja yang telah aku korbankan untuknya? Tidakkah ia tahu bahwa sebelumnya aku sudah mau mengorbankan orang yang juga kusayangi untuknya? Tidakkah ia tahu bagaimana susahnya aku melepaskan orang itu untuk bisa melihatnya bahagia dengan orang yang ia sayangi? Tidakkah ia tahu bagaimana rasa sakit hatiku disaat ia menceritakan kebersamaan mereka? Aku sakit saat mendengar itu semua asal dia tahu! 

  

Lalu sekarang apa yang dilakukannya untuk membalas semua pengorbananku itu? Dengan menyakitiku lagi? Dengan membuatku lagi-lagi harus mengorbankan orang yang aku sayangi? Denga membuatku lagi-lagi harus merasakan bagaimana rasanya terluka karena cinta? Ini bukan berarti aku menginginkan ia membalas pengorbananku. Tapi yang aku inginkan hanyalah ia mau sedikit saja menghargaiku. Menjaga perasaanku. Itu saja. 

Sudah cukup aku bersabar disaat aku sedang bersama sahabat yang juga menyukai A itu. Sudah cukup aku bersabar saat diluar sekolah saja. Aku tidak mau selalu bersabar dimanapun aku berada. Aku tidak akan mau membiarkan hatiku perlahan-lahan kembali pecah menjadi berkeping-keping karena rasa kecemburuan dan sakit hati ini. Sudah cukup semua luka yang kurasakan saat ini. Aku ingin terlepas!


Luka luka luka! Kecewa kecewa kecewa! Itulah yang selalu kurasakan saat berhadapat dengan suatu perasaan yang namanya cinta. Apakah aku tidak berhak merasakan kebahagiaan cinta yang sesungguhnya. Aku tidak menghendaki aku harus mempunyai hubungan khusus dengan si A. Cukup menjadi teman saja tidak apa-apa. Keinginanku tidak muluk-muluk. Cukup jangan buat hatiku sakit dengan menceritakan hal yang berhubungan dengan si A dan orang lain. Cukup jangan lakukan itu saja. Jika mereka ingin menceritakan hubungan si A dengan seseorang, itu hanya boleh denganku! Hanya denganku! 

Jangan katakan aku egois. Aku hanya tidak ingin menyakiti diriku sendiri, aku hanya tidak ingin membuat diriku jauh menderita dari pada ini. Itu saja yang aku inginkan. Tidak lebih.

Alfi, saranghae yo... Anata ga daisuki desu...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...