Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2015

Jadi Sebenarnya Apakah Kita 'Cinta'?


Hmm... Jadi ceritanya akhir-akhir ini saya mulai tertarik dengan pembahasan mengenai cinta. Sebenarnya pembahasan mengenai cinta ini sudah menarik perhatian saya sejak dulu, tapi entah kenapa mulai mencari tahu dan benar-benar penasaran itu baru akhir-akhir ini. Yaa biasalah, dikarenakan saya mendapat tambahan ilmu dari belajar Psikologi Perkembangan II. 

Sebelumnya, sebelum saya belajar Perkem II, saya sering mendengar perasaan sejenis suka, sayang, cinta, kasih, jatuh cinta, cinta monyet, dan kawan-kawannya yang lain. Semua jenis perasaan itu yang sering diucapkan oleh orang Indonesia. You know, in English, all of that is love, right? Ya palingan ada kata-kata like, love, dan falling in love gitu kan? Perbedaan di antara semuanya tak terlalu terlihat. Setidaknya tak terlalu dipahami oleh orang seperti saya ini. Yang selama (hampir) 20 tahun masih saja dibingungkan oleh jenis-jenis perasaan 'sejenis' cinta.

Kemudian...setelah 19 tahun mempertanyakannya, di semester lalu saya cukup mendapat pencerahan. Sekaligus bikin tambah bingung sih. Disini, di mata kuliah Psikologi Perkembangan II itu, ada salah satu materi mengenai 7 Types of Love. Saya tak begitu ingat penjelasan lengkapnya, jadi saya sedikit (atau mungkin banyak) meminta bantuan paman gugel dan kemudian saya pun menemukannya. 

Dari sumber yang saya dapatkan (disini), disebutkan ada 7 tipe dari cinta ini. Nah, kesemua tipe itu bisa dibentuk oleh 3 dimensi. Kira-kira 3 dimensi itu bisa diilustrasikan seperti gambar ini:


Pertama, intimation. Intimasi ini dapat berupa kedekatan, keterikatan, dan terbentuknya ikatan emosional yang kuat. Kedua, commitment. Komitmen ini bisa dikatakan juga sebagai keputusan kita untuk tetap mempertahankan suartu hubungan. Yang terakhir itu passion. Ini bisa disebut juga sebagai hasrat/gairah seksual kita kepada pasangan. Ya taulah ya maksud saya seperti apa. 

Nah, itu dia ketiga dimensinya. Masing-masing tipe dari cinta menurut Sternberg ini bisa dibentuk oleh satu, dua, atau kesemua dimensi tersebut. Berdasarkan tingkat 'ketinggian' dimensi (sejauh mana dimensi itu berperan dalam suatu hubungan) tersebut, disebutkan ada 7 jenis hubungan percintaan (love relationship).

1. Liking : tinggi hanya pada intimasi (biasanya ada pada hubungan persahabatan)
2. Romantic : tinggi pada intimasi dan gairah (mungkin yang sejenis pacara-pacaran anak muda jaman sekarang)
3. Companionate : tinggi pada intimasi dan komitmen (biasanya ada pada hubungan kita dengan keluarga)
4. Empty : tinggi hanya pada komitmen (semacam hubungan yang dilakukan karena alasan kekeluargaan, hidup terpisah tapi masih dalam satu atap)
5. Fatuous : tinggi pada gairah dan komitmen (biasanya terjadi pada pasangan yang dijodohkan)
6. Infatuated : tinggi hanya pada gairah (hmm... sejenis 'cinta pada pandangan pertama' mungkin?)
7. Consummate : tinggi pada ketiga dimensi (nah, ini dia tipe cinta yang paling diinginkan banyak orang)

Tipe-tipe cinta inilah yang saya dapatkan dari salah satu mata kuliah favorit saya di Psikologi. Sayangnya materi mengenai cinta ini hanya dijelaskan secara sekilas, jadi sebenarnya masih ada di beberapa bagian yang belum begitu saya pahami. Tapi setidaknya sudah mulai terbedakan lah jenis-jenis perasaan yang kita rasakan pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda. 


Ketujuh tipe cinta itu mungkin bisa cukup dibedakan, tapi bagaimana dengan istilah yang tidak disebutkan pada ketujuh tipe cinta di atas? Bagaimana dengan perasaan dalam Bahasa Indonesia yang kita kenal dengan istilah sayang? kasih? dan cinta itu sendiri? Apa sebenarnya kesemuanya itu adalah perasaan cinta dengan penggunaan istilah yang berbeda-beda? Dan kenapa orang-orang masih membedakan 'aku suka dia', 'aku cinta dia', 'mungkin ini bukan cinta, tapi hanya perasaan sayang'? Sebenarnya perbedaan jelasnya berada dimana?

Mungkin kita juga dikenalkan dengan tiga jenis cinta pada pelajaran Agama. Cinta kepada Allah. Cinta Kepada sesama manusia. Cinta kepada diri sendiri. Kesemuanya menggunakan istilah 'cinta' kok. Tidak ada kata suka, sayang, atau kasih. Ataukah itu hanya berbeda dalam menerjemahkan kata bahasa Arab ke bahasa Indonesia?

Ya, makin lama saya jadi makin bingung sendiri. Mungkin saya butuh teman diskusi? Hmm? Ada yang mau berdiskusi dengan saya?


Jumat, 21 September 2012

"Miracle is Another Name for Hardwork"



Emm, akhir-akhir ini dengan atau tanpa aku sadari ternyata banyak sekali yang aku pikirkan. Ya, memang semua orang pasti selalu memikirkan sesuatu kan yah. Berpikir adalah kelebihan yang diberikan Tuhan kepada kita, manusia. Berpikir disini maksudnya kita diberikan akal pikiran yang bisa kita gunakan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Tak terkecuali untukku. Tapi apakah jika kita terlalu banyak memikirkan sesuatu nantinya akan menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan? Stres misalnya?

Pertama, aku memikirkan mengenai prestasi akademikku di sekolah. Bukan maksud menyombong atau sejenisnya yah, tapi aku cukup berprestasi di sekolahku. Ya, cukuplah untuk bisa mendapatkan peringkat 3 besar di kelas. Dulu juga sewaktu SD aku pernah mengikuti pelatihan olimpiade sains tingkat provinsi di Padang, tapi sepertinya itu adalah pengalaman olimpiade terakhirku semasa sekolah. Sekarang aku hanya fokus pada prestasi di sekolah saja, atau mungkin lebih tepatnya untuk bisa mempertahankan posisi juara 2-ku kalau memang mungkin sulit untuk menggapai juara 1. Dan mungkin hal inilah yang membuat orang tuaku menaruh harapan besar padaku sebagai anak mereka yang ‘mungkin’ adalah anak dengan prestasi yang paling bagus yang mereka miliki. Tapi bukan berarti aku tidak menaruh harapan pada kemampuanku yah, tapi aku..entah kenapa akhir-akhir ini merasa terbebani dengan semua harapan-harapan itu. Aku takut mengecewakan semua orang yang menaruh harapan mereka padaku. Setelah sekarang mereka bangga dan senang dengan semua yang aku peroleh, aku hanya tidak mau jika mereka nantinya kecewa jika aku tiba-tiba saja terpuruk dan hancur. Aku hanya tidak ingin hal itu terjadi.

Sejauh ini aku telah berusaha sebisaku. Benar kata seseorang, membuat orang tua bangga adalah suatu kebahagiaan yang luar biasa. Aku sangat menyukai saat-saat dimana mereka tersenyum melihat prestasi yang kuperoleh. Bagaimana ibuku berdandan disaat pembagian rapor karena ingin dirinya tampil kedepan bersamaku karena aku memperoleh posisi juara kelas. Bagaimana bangganya ia saat itu. Aku ingin setiap saat melihat senyum yang seperti itu. Tapi entah kenapa selalu saja aku membuat kesalahan. Membuat mereka kecewa. Sebenarnya aku tak ada sedikitpun niat untuk itu. Hanya saja...egoku...ya, egoku membuatku melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang aku pikirkan. Kekecewaan muncul satu per satu.

Entahlah apa yang sebenarnya aku lakukan sekarang ini. Apa tujuanku melakukannya? Ingin kuliah jauh-jauh ke Bandung. Untuk apa? Membanggakan orang tua? Sejujurnya, pikiran bodohku ini memiliki alasan lain kenapa aku ingin sekali kuliah di Bandung. Aku ingin bertemu aa-koi. Ahahaha. Masih saja mengenai orang itu. Sudah hampir satu tahun berlalu sejak hari itu. Ah, tidak. Mungkin sebenarnya sudah lebih dari itu. Jika mengingat-ingat mengenai hal itu, aku entah kenapa benar-benar merasa menjadi orang yang bodoh. Mempertahankan, atau mungkin ‘memaksa’ hal yang seharusnya sudah tidak lagi ada. Ya, aku memang orang yang bodoh. Bodoh dalam hal yang satu ini. 

Emm, mungkin hal pertama yang harus kulakukan saat ini adalah belajar dengan giat. Rasa malas yang sudah mendarah danging ini harus dimusnahkan dengan sempurna. Kalau hanya ‘menyiasati’nya itu hanya akan bertahan sementara seperti saat ini. Saat dimana aku merasa jenuh untuk belajar. Entahlah. Aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Bagaimana mungkin orang sepertiku nantinya ingin menjadi seorang psikolog? Ah, tidak. Aku (ingin) menjadi psikolog karena tidak ingin ada orang lain yang mempunyai masalah sepertiku. Aku ingin membantu orang lain melalui jalan yang benar, tentunya. Dan aku yakin jika aku bisa mewujudkan itu, otomatis orang tuaku akan bangga padaku. 

Ya, untuk saat ini...cukup seperti itu saja. Jika aku belajar dan berusaha lebih keras lagi, impian bukanlah hanya sekedar mimpi. Ah, jadi ingat sebuah kalimat penyemangat dari salah satu dramkor favoritku. Miracle is another name for hardwork.”

Yosh! Fighting!

Ichi.rth

Senin, 02 April 2012

Kita dan Mereka :)

Pernahkah kita berpikir mengenai pribadi setiap orang yang berbeda-beda?
Pernahkah kita berpikir mengenai individu yang unik?
Dan yang terpenting, pernahkah kita berpikir mengenai pribadi diri kita sendiri yang unik dan berbeda dari orang lain?
Pernahkah kita memikirkan semua itu?

Manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dengan rupa dan sifat yang berbeda-beda. Kali ini saya ingin membahas mengenai yang kedua, yaitu lebih ke sifat atau bisa dibilang segi psikis. Nah, percayakah teman-teman berpikir kalau pribadi setiap orang itu berbeda-beda? Memang mungkin ada di beberapa poin sama dengan orang lain, tapi kalau kita perhatikan lebih jauh lagi, setiap orang itu memang berbeda. Kita, teman kita, orang tua kita, idola kita, semuanya mempunyai pribadi yang tidak sama.

Pernahkah kita memperhatikan seseorang? Tentunya pernah dong.. Nah, apa-apa saja yang kita dapatkan setelah memperhatikan orang tersebut? Yang pertama sekali pastilah dari segi fisiknya (ya kalau yang kita perhatikan itu orang yang mempunyai fisik, kalo engga ya ga mungkin juga.. LOL). Lalu jika kita perhatikan lagi, kita juga akan mendapatkan informasi berupa sifat atau pribadi orang tersebut. Ada orang yang ramah, baik hati, sombong, pemarah, pendiam, ceria, dsb. Itu semua berbeda bukan? Dari sana sudahkah kita memahami kalau setiap orang itu berbeda-beda?

Emm, sebelum membahas lebih jauh, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu apa manfaat dari pembahasan kita kali ini. Ya supaya tambah semangat membaca lebih lanjut. ^^

Tujuan sebenarnya dari pembahasan ini tidaklah jauh-jauh dari 'pemahaman' mengenai pribadi kita masing-masing. Hendaknya setelah kita membahasnya, kita bisa memiliki motivasi untuk menggali potensi yang ada dalam diri kita, kita tidak lagi merasa minder dengan diri kita dan juga kita mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai pribadi manusia.

Saya sebenarnya bukanlah orang yang banyak pengetahuan mengenai pribadi manusia ini. Saya hanyalah seorang 'pribadi' yang tertarik untuk membahas hal-hal yang berkaitan langsung dengan diri manusia. Selain yang berasal dari fisik (yang tampak), bagian lain dari manusia adalah psikis (yang tampak dari hati ^^). Saya adalah orang yang masih dalam tahap pembelajaran sama dengan teman-teman sekalian. Dan berharap dengan membahas hal ini kita bisa sama-sama belajar. Mengenai apa saja, tentunya.

Baiklah, kita lanjutkan.

Manusia memiliki pribadi yang berbeda. Mungkin memang ada orang yang sama-sama ramah, sama-sama pendiam, sama-sama sombong, dsb. Tapi tentu saja semua dari mereka itu punya tingkatan sifat yang berbeda. Ada yang ramah dalam artian selalu memperlihatkan wajah tersenyum dan menyapa semua orang yang ditemuinya dengan nada yang menyenangkan, ada orang yang ramah dalam artian selalu memperlihatkan keakrabannya terhadap orang-orang terdekatnya dan berusaha untuk selalu tersenyum kepada mereka, dan tentunya ada pula yang ramah dalam artian hanya untuk mencari muka. Hal yang seperti itu tidak bisa dianggap tidak ada. Bukankah tidak sedikit orang yang ramah hanya jika ada untungnya. Mereka memang ramah, tapi hanya untuk diwaktu-waktu tertentu. Yang seperti itu masih bisa dikategorikan 'ramah' tapi hanya palsu.

Lalu juga ada beberapa kategori dalam sifat orang yang 'pendiam'. Bisa saja orang itu pendiam di setiap saat dimana pun mereka berada dan ada juga orang yang pendiam disaat-saat tertentu. Contohnya jika seseorang berada di lingkungan yang baru yang masih asing untuknya. Maka tanpa ia sadari ia berubah menjadi pribadi yang pendiam. Menurut pandangan saya, pendiam itu berhubungan dengan sifat 'pemalu'. Karena ia malu, maka ia menjadi pendiam. Contohnya ia malu untuk berbicara dan bergaul dengan lingkungannya, lalu akhirnya ia menjadi orang yang pendiam. Dan ini erat kaitannya dengan kategori pemalu di waktu-waktu tertentu. Mereka yang pendiam di kategori ini disebabkan karena mereka malu dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tersebut, sehingga hal itu mendorong mereka untuk bersikap pendiam.

Nah, dari dua contoh sifat itu saja kita sudah menemukan beberapa perbedaannya. Dan jika kita coba tinjau dari segi sifat yang lainnya, tentunya kita juga bisa menemukan beberapa perbedaan didalamnya. Tapi saya tidak bisa menuliskan itu semua di pembahsan kali ini. Saya rasa teman-teman sendiri juga bisa melakukannya bukan?

Pembahasan diatas sudah memperlihatkan kepada kita mengenai perbedaan individu dari segi 'perbedaan dalam sifat yang sama'. Selanjutnya juga kita bisa melihat perbedaan dari segi 'jika ditambahkan denga sifat individu tersebut yang lainnya'. Contohnya ada seseorang yang mempunyai sifat sombong. Ia sombong karena ia pintar dan merasa dirinya hebat dengan kepintarannya tersebut sehingga muncullah sifat sombong di dalam dirinya. Berarti selain ia sombong, ia juga pintar dan sedikit mempunyai sifat 'takabur'. Contoh lainnya yaitu ada seseorang yang dianggap sombong oleh teman-temannya. Ia tidak pernah mau berbagi. Padahal dia mempunyai otak yang encer dan seharusnya bisa membagi kepintarannya kepada teman-temannya dengan mengajari mereka dibeberapa pelajaran yang tidak teman-temannya mengerti tapi ia tidak mau. Berarti selain ia sombong, ia juga pintar dan menpunyai sifat pelit.

Nah, dari contoh diatas juga terlihat maksud dari pribadi setiap individu yang berbeda-beda bukan? Padahal mereka sama-sama sombong karena mereka pintar, tapi yang satu memiliki sifat takabur dan yang satu lagi memiliki sifat pelit. Mereka berbeda bukan?

Semua kita berbeda. Itulah yang kita dapat jika memperhatikan orang lain. Bagaimana jika perbedaan ini kita tinjau dari diri kita sendiri. Bisakah kita menemukan perbedaan pribadi kita dengan orang lain? Tapi sebelumnya, kita harus memahami diri kita terlebih dahulu. Bagaimana sifat kita? Bagaimana cara kita bersosialisasi di sekolah? Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah? Bagaimana cara kita dalam membagi waktu? Dan juga hal-hal lainnya. Pahamilah diri kita. Orang yang seperti apakah kita sebenarnya?

Sudahkah teman-teman mengetahui bagaimana sifat teman-teman? Yakinkah dengan semua itu? Kalau belum yakin, mungkin orang terdekat teman-teman bisa membantu. ^^

Nah, setelah kita mengetahui bagaimana diri kita, sekarang saatnya untuk melihat perbedaan kita dengan orang-orang yang berada di sekeliling kita. Bisakah kita melihat letak perbedaan kita? Kita melakukannya bukanlah untuk membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan kita dibandingkan orang lain. Tapi kita melakukannya adalah untuk mencari tahu letak keunikan kita. Seperti yang sudah saya ungkapkan diatas, setiap individu itu unik. Dan tidak terkecuali diri kita sendiri.

Kita mempunyai hal-hal yang tidak dimiliki orang lain. Dan hal itu perlu untuk kita syukuri. Walaupun hal yang kita miliki itu kita anggap 'kekurangan' kita, tapi percayalah, belum tentu apa yang kita anggap kekurangan itu juga dianggap kekurangan oleh orang lain. Bisa saja mereka menganggap itu adalah kelebihan kita yang membuat diri kita menjadi unik. Dan kita juga harus menanamkan hal itu dalam diri kita. Jangan minder dengan apa yang kita miliki. Jangan sampai hal itu membuat kita terkucilkan dan membuat kita tidak bersemangat. Percayalah, segala sesuatu yang diberikan Sang Pencipta kepada kita pasti ada maksudnya tersendiri. Sekarang kita hanya perlu mencari tahu hal itu dan menjadikannya 'kunci' kebesaran pribadi kita.

Kemudian, selain mempunyai hal-hal yang tidak dimiliki orang lain, orang lain pun juga memiliki hal-hal yang tidak kita miliki. Disinilah kata 'berbagi' perlu untuk kita terapkan dan laksanakan dengan baik. Berbagi dapat membuat apa yang tidak kita miliki menjadi mudah kita dapatkan. Dimana kita bisa mendapatkannya? Kita akan mendapatkannya di pribadi orang lain. Hikmah dari pribadi manusia yang berbeda-beda salah satunya adalah membuat manusia menjadi makhluk sosial. Manusia memerlukan orang lain dalam hidupnya. Dan hal ini membuat manusia harus bersosialisasi dengan lingkungan tempat dimana mereka berada. Membagi apa yang mereka miliki dengan orang lain dan mendapatkan apa yang tidak mereka miliki dari orang lain. Kebersamaan adalah yang terbaik. Percayalah. ^^

Siiip dahh... ^.^b

Manusia itu unik dan harus mau berbagi. Jangan pernah sesali apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita miliki. Itulah keunikan diri kita. Syukuri itu. Dan satu lagi. Apa yang ada di diri kita bukan hanya kita miliki untuk diri kita sendiri, terdapat bagian orang lain juga disana... Jadi, jangan pernah berhenti berbagi, teman~ Arraso? ;)



Selasa, 20 Maret 2012

Pertanyaan // Pemilihan Jurusan // Keinginanku


Psikolog? Apa sih yg bisa didapat dari sana? Pekerjaan yg tidak begitu jelas seperti apa.

Itu kata orang tuaku tadi. “Masuk aja kedokteran, kebidanan, kesehatan masyarakat, atau ga jadi guru, dll. Di tempat kita ini psikolog itu bisa dibilang ga dibutuhkan. Guru lebih banyak peluang kerjanya. Dimana-mana guru itu dibutuhkan.” Iya, aku tahu itu.

“Lalu kenapa ga masuk itu saja? Kedokteran kan juga bisa. Diantara anak mama yg lain, memang Ichi yg bisa mama harapkan untuk jadi dokter. Mama rasa Ichi bisa kalau Ichi mau.” Nah, itu dya. Kalau aku mau kan? Kalau aku-nya ga mau gimana?

“Udah mama coba tanya ke temen, katanya kalau anak perempuan itu ga usahlah jadi psikolog. Perempuan itu kebanyakan menggunakan perasaanya sedangkan untuk jadi psikolog itu kita ga boleh terbawa larut dalam perasaan kita,” Ya, aku juga tw itu.
“Bagus jadi guru saja. Jadi guru itu sudah diberikan apa-apa saja materi yang akan diajarkan kepada muridnya. Papa rasa jadi guru itu akan lebih mudah. Pekerjaannya juga dibilang mudah untuk dicapai di tempat kita ini.”

“Kedokteran juga bisa. Dan kalau memang Ichi ga yakin bisa tembus kedokteran, ambil saja kebidanan atau ga kesehatan masyarakat. Pekerjaan itu juga lebih dekat untuk seorang perempuan.”

“Coba kalau psikolog? Untuk bisa jadi psikolog itu waktunya lama. Harus tamat S2 dulu baru bisa buka praktek psikolog. Trus kapan mw nikahnya?” He? Pertanyaan apa itu? ==”

.

Itu semua pernyataan dan pertanyaan yang diajukan oleh orang tuaku tadi. Akan kujawab satu per satu alasanku untuk menyetujui dan tidak setujunya mengenai semua perkataan orang tuaku itu.
Kenapa aku ga pilih kedokteran?

Dulu, seperti umumnya anak kecil yang ditanyai mengenai cita-cita, aku juga berkata ingin jadi dokter. Bahkan sampai kelas 3 SMP dulu, aku juga masih mencita-citakan itu. Aku berpikir menjadi dokter itu pasti akan menyenangkan, memakai seragam putih-putih, bekerja di rumah sakit, mengobati pasien, dll. Lalu aku pun juga berpikir dengan kemampuanku aku pun mungkin bisa mencapainya. Tapi itu dulu, sebelum aku membenahi pemikiranku.

Sekarang, tiba-tiba saja aku berubah pikiran. Sebenarnya bukan tiba-tiba juga sih, tapi bertahap juga. Awalnya aku kepikiran soal susahnya menembus perguruan tinggi dengan jurusan kedokteran. Sekian banyak orang yang mendaftar, tapi hanya segelintir saja yang akan diterima. Bukannya aku tidak percaya pada kemampuanku, tetapi aku hanya berpikir realistis. Masih banyak orang-orang yang lebih hebat dariku dan orang-orang seperti mereka juga pasti menginginkan jurusan bergengsi seperti kedokteran itu. Dan aku kalah dari mereka. Sekali lagi aku bukannya tidak percaya pada kemampuanku, aku hanya berpikir realistis serealistis mungkin.

Lalu alasan selanjutnya kenapa aku mundur dari cita-cita awalku itu yaitu karena aku menyadari kalau aku ternyata tidak cocok menjadi dokter. Beberapa waktu yang lalu aku ditugaskan untuk mencari tahu mengenai penyakit kanker beserta gambar-gambarnya. Dan masyaallah, aku ga kuat melihat semua gambar-gambar itu! Rasanya mau muntah. Ini sama sekali bukan hal lebay buatku, tapi ini adalah kenyataannya. Bagaimana mungkin bisa mengobati penyakit orang lain sedangkan melihat penyakit itu saja aku tidak bisa. Itu sungguh tidak masuk akal.

Dan alasan terakhir yg mungkin hanya sebagai dalih tambahan yaitunya waktu kuliah kedokteran yang lama dan biaya kuliah yang besar. Akhirnya dengan semua alasan itu, aku meniadakan kedokteran dalam pilihan jurusan untuk perguruan tinggiku nanti.

.
Lalu kenapa aku ga pilih guru?

Pertama dan yang utama sekali, aku tidak tahu nantinya akan jadi guru apa. Tidak ada bidang pelajaran (terutama IPA, jurusanku sekarang) yang benar-benar menarik perhatianku.

Mulai dari Fisika. Astaghfirullah ampun dah.. Untuk saat ini aku benar-benar tidak ada sedikitpun terpikir untuk menjadi seorang guru fisika. Keren sih keren, tapi mempelajari semua rumus-rumusnya itu juga keren bgt. Sampai-sampai harus masuk rumah sakit mulu karna stress mikirinnya. Dulu sih pas kelas 3 SMP sempat kepikiran buat jadi guru fisika karena kebetulan pas waktu itu aku lagi lope lopenya ama ntu pelajaran. Tapi untuk sekarang ini, maap maap aja deh.. ==V

Kedua, Biologi. Tertarik sih ada. Mempelajari makhluk hidup, cara mereka hidup, bekembang, perilaku-perilaku mereka, dsb. Aku pas membaca buku-buku biologi (yg ada gambarnya) juga ‘wah wah’ sendiri karena takjubnya. Tapi.. Ada tapinya nih. Mungkin karena ga super duper tertarik, jadinya pas mau ngapalin semua nama-nama latin yg bejibun itu, aku ogah bgt dah.. Dan otomatis ya semua yg udah dibaca tadi cuman tinggal separoh lebih lebih dikit.

Selanjutnya, Kimia. Haii Kimia.. Kenalkan aku Suci Husnia Sadri yang sebenarnya udah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Tapi maaf, rasa cinta itu sudah berkurang sekarang. Alasannya? Karna ternyata pelajarannya ga segampang yg aku kira dulu. Banyak juga unsur-unsur dkk-nya yang musti dihapalin. Dan tentu saja itu semua hanya dalihku saja supaya aku ga jadi guru kimia.

Lalu Matematika. Waah, kalo untuk yang satu ini sih aku paroh-paroh hati. Kadang suka kadang puyeng mikirin ni pelajaran. Apalagi beberapa tahun belakangan ini guru-guru yang ngajarnya juga seru, jadinya pelajaran gampang masuk. Tapi ya, ternyata aku ga cukup kreatif buat menyelesaikan semua soal-soalnya. Dan aku jadi guru mtk? Jangan deh. Ntar bisa-bisa pas aku jadi guru semua murid jadi ikutan puyeng karna liat gurunya aja puyeng ngeliatin soalnya. ==a

Dan untuk pelajaran-pelajaran lainnya, rasanya ni cerita ga bakal ada abis-abisnya ntar kalo aku jelasin semuanya. Intinya sih aku ga tahu bakalan milih jurusan apa kalo ntar memang mau jadi guru.

Alasanku selanjutnya kenapa ga milih jadi guru yaitu aku ga mau jadi ‘guru’. Mengerti maksudku? Itu lho, guru yang kerjanya hanya masuk kelas, nyuruh murid baca buku, ngerjain tugas trus besoknya ulangan. Aku juga tidak mau jadi guru yang monoton. Kerjanya nerangin pelajaran sampil melotot dan bicara baku yg bikin murid-murid ngantuk di kelas. Aku juga tidak ingin jadi guru yang telinganya ntar tiap hari jadi panas karna dengerin murid-murid bicara yang ga baik soal aku. Sungguh, aku paling ga suka dikatain begitu. Sebenarnya sih semua alasan-alasan ‘guru’ itu bisa aku hindari dengan tidak menjadi guru yang seperti itu. Tapi aku merasa aku tidak punya bakat di bidang itu semua.

Jadi, dengan semua hal yang telah kujabarkan diatas, aku juga meniadakan guru dalam daftar cita-citaku.

.
Dan pertanyaan terakhir, kenapa aku milih jadi psikolog?

Awal cerita kenapa aku bisa terpkir untuk jadi psikolog adalah disaat aku sedang mengalami masalah. Aku benar-benar buntu, tidak tahu harus melakukan apa. Disaat itu terpikir olehku soal psikolog. Orang yang ahli dalam hal pemikiran manusia. Memang mungkin orang lain bisa dijadikan tempat untuk ‘curhat’, tapi psikolog itu ada nilai lebihnya. Mereka memang sudah benar-benar mempelajari itu semua. Mempelajari bagaimana manusia berpikir dan hal-hal menyangkut ‘pikiran’ dan juga ‘perasaan’ yang menyertainya. Disaat itu, aku benar-benar klop dengan tujuanku ingin jadi psikolog. Bisa membantu orang lain dalam menyelesaikan masalahnya.
Psikolog itu ga cocok untuk perempuan?

Kenapa? Karna perempuan itu kebanyakan menyeratai perasaan dalam mengambil keputusan? Sehingga terkesan nantinya apa yang akan dilakukan oleh mereka tidaklah real, melainkan hanya bagian dari luapan emosi semata? Ayolah, tidak semua perempuan seperti itu. Memangnya tidak ada psikolog yg adalah seorang perempuan? Bagaimana bisa mereka jadi seorang psikolog dengan ‘perasaan’ mereka itu? Mereka berhasil mengatasi itu semua. Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak?
Psikolog tidak banyak berguna di tempat ‘kita’ (Kota Payakumbuh)

Emm, aku akui itu memang benar. Praktek psikolog memang belum ada di Payakumbuh, tapi bukan berarti tidak akan ada, bukan? Kalau memang belum ada, nantinya akulah yang akan membuka praktek psikolog pertama di Payakumbuh. Tapi sedikit mengomentari pertanyaan diatas, seorang psikolog itu tidak harus hanya membuka praktek psikolog bukan? Seorang psikolog bisa saja bekerja di sebuah perusahaan atau kantor-kantor setempat. Pikiran mengenai psikolog itu hanya sebatas membuka praktek itu adalah pikiran yang sangat sempit. Banyak peluang-peluang lainnya.
Jurusan Psikologi

Nah, tentunya ini adalah jurusan tujuanku nanti. Sebenarnya inilah inti dari semua pembicaraan ini. Aku ingin masuk jurusan Psikologi. Mempelajari lebih dalam mengenai ilmu-ilmu kejiwaan manusia. Bagaimana manusia berpikir mengenai sesuatu, bagaimana manusia memandang lingkungan sekitar mereka, bagaimana manusia menyelesaikan masalah mereka, bagaimana kepribadian manusia itu sendiri, apa tipe-tipe pemikiran manusia, apa-apa saja yang mempengaruhi manusia dalam bertindak. Heii, semua yang aku katakan itu tadi dipelajari dalam jurusan psikologi bukan? Tidakkah semua itu menarik?

Kalau memang aku tidak bisa jadi psikolog, setidaknya masih (sangat) banyak pilihan-pilihan lapangan pekerjaan lain yang tersedia untuk tamatan S1 Psikologi. Atau bahkan insyaallah nantinya aku akan bisa tamatan S2 Psikologi (Aamiin..). Dan dengan begitu lapangan pekerjaan yang bisa aku dapatkan nantinya akan semakin banyak dan luas. Kalau pun tidak bekerja di Payakumbuh, aku kan masih bisa bekerja di luar Payakumbuh kan? Mungkin memang orang tua tidak memperbolehkan bekerja di luar Sumbar, tapi bukankah kota-kota di Sumbar lainnya juga masih banyak? Bukittinggi dan Padang, misalnya. Benar kan?

Jadi untuk saat ini aku tetap akan mempertahankan keinginanku untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan Psikologi. Dan sepengetahuanku, PTN yang menyediakan jurusan psikologi adalah UNPAD, UI, UGM, USU, UNAIR..

Yosh! Semangat Ichi!! Perjalanan hidup masih panjang. Raihlah Impian… ^-^

Jadi Psikolog aja deh...

Perkenalkan..
Saya calon mahasiswa Psikologi (Insyaallah)..
Ichi Ryuu Uchiha a.k.a Suci Husnia Sadri

Lagi ubrak-abrik gugel trus coba nyari mengenai Psikolgi, fakultas psikolgi, prospek kerja, yg dipelajari, de el el. Dan ini beberapa hal-hal yg berhubungan dengan psikolgi. Saya ambil dr berbagai sumber. (susah nyebutin satu2)

-----

"Jurusan psikologi menawarkan berbagai manfaat. Baik itu dalam dunia kerja, kebaikan untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Kelebihnya jurusan psikolgi membahas tentang diri manusia, yang itu artinya dimana ada manusia disanalah psikologi dibutuhkan."

-----

"Psikologi, siapa yang tidak pernah mendengar istilah ini. Psikologi merupakan salah satu bidang study yang mempelajari tingkah laku manusia. Psikologi adalah bidang study  atau jurusan sangat menarik karena ilmu yang kita dapatkan tidak hanya berguna untuk orang lain tapi juga dapat kita praktik dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi sangat menarik mempelajari sesuatu yang sangat dekat dengan kita yaitunya tingkah laku manusia.

Psikologi mempunyai enam peminatan yaitu psikologi sosial, psikologi pendidikan, psikologi industri dan organisasi, psikologi klinis, psikologi perkembangan dan psikologi eksperimen. Psikologi sosial, disini mempelajari individu dalam sebuah masyarakat. Psikologi pendidikan ini berkaitan dengan dunia pendidikan. Psikologi industri dan organisasi berkaitan dengan industri dan perusahaan. Psikologi klinis merupakan psikologi yang berkaitan dengan perilaku individu itu sendiri. Psikologi perkembangan mempelajari tentang perkembangan manusia dari kecil sampai dewasa. Psikologi eksperimen melakukan berbagai eksperimen tentang perilaku manusia.

Bagaimana prospek kerjanya? Prospek kerja Psikologi cukup luas diantaranya bekerja di HRD sebuah perusahaan, guru BK, psikolog, trainer, peneliti dan banyak lapangan kerja lainnya.

-----

Ada beberapa pertanyaan yang sering menghantui para peminat ilmu kejiwaan, antara lain adalah sebagai berikut:
Fak psikologi, bagus gak?
Di fakultas psikologi tuh belajar pa aja?
Trus, psikologi tuh fakultas rendahan yhaaa?
Kok banyakan bilang gak guna masuk psikologi?

Dan berikut ulasan dari jawaban atas pertanyaan di atas:

pendapat ke 1: 
Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak
Tidak ada satu fakultas pun yang didirikan tanpa ada kegunaannya Bro. Semua fakultas mempunyai fungsinya masing-masing, demikian juga dengan pengembangan karir setelah selesai mendalaminya.

Yang terpenting adalah apakah kita benar-benar menyukai bidang keilmuan yang terdapat di dalamnya atau tidak. Karena apapun yang kita kerjakan tanpa didasari dengan rasa suka/cinta terhadap hal tersebut maka hanya akan menjadi beban bagi diri kita.

Mengenai komentar orang yang mengatakan bahwa fakultas psikologi termasuk fakultas rendahan, itu adalah tidak benar. Mereka hanya kurang memiliki informasi terhadap bidang keilmuan tersebut.

pendapat ke 2:
Psikologi adl ilmu yg rumit tapi menyenangkan. Karena banyak hal yg bisa kita dpt dari psikologi. Dibilang fakultas rendahan, gak juga. Buktinya sekarang banyak orang yg berminat masuk fakultas psikologi, termasuk para public figure. Di fakultas psikologi kita mempelajari banyak hal yg berkaitan dgn kepribadian manusia, baik kepribadian yg sehat maupun yg sakit. Dlm psikologi kita juga mempelajari berbagai hal tentang tingkah laku manusia beserta apa yg mendorongnya. Tentang kegunaan masuk psikologi, tergantung orangnya. Jika kamu memang senang menganalisis kepribadian orang ato senang menjadi t4 curhat ato senang dengan hal2 yg berbau tingkah laku manusia kamu akan merasakan banyak kegunaan dari psikologi. Disini kamu akan melihat banyak hal dari sisi berbeda dan psikologi mengajarkan kamu untuk bisa lebih terbuka dengan berbagai hal. Tidak sembarangan mengejudge sesuatu. Satu hal yg paling aku suka dari belajar psikologi adl aku menjadi jauh lebih dewasa dalam memandang banyak hal yg terjadi dalam hidupku dan sekitarku. Aku tidak lagi merendahkan orang2 yg mungkin tidak beruntung baik secara materi maupun secara mental. Jd psikologi tidaklah sejelek dan serendah yg dikira orang. Banyak hal yg bisa kamu dapat dari sebuah ilmu yg dinamakan psikologi.

pendapat ke 3:
Fak Psikologi, sangat bagus dan interesting! Go a head! Kamu akan mengerti bagaimana kelakuan, sifat manusia, apa hubungannya dengan kelahirannya. Tujuan dari behavior yg timpang, baik anak-anak atau dewasa, atau sekelompok orang! Dan mempelajari teori-teori psiko yg terkenal...siapa tahu kamu juga bisa menggantikan teori yg lama. Masih banyak sekali, jadi kamu harus benar-benar siap mental, karena akan banyak pertanyaan2 yg melibatkan pikiran, bukan berarti klient-klient tersebut pada miring-miring...bukan! Bisa juga kamu akan belajar mengenai emosi dan cinta.
Menurut pengamatanku di negara aku tinggal: Psikolog adalah org yg dihormati. Banyak sekali yg berprofesi psikolog, dan bayarannya paling mahal (bayar per jam, satu sektion bisa satu juta, itu bagi psikolog yg belum terkenal). Psikolog-psikolog tersebut sangat dibutuhkan, dan mereka tidak pernah kehabisan klient! Setiap tahunnya praktek psikolog bertambah!
Pokoknya interesting!
materi referensi:
Dapet pelajaran psikologi di basic and care health school.

pendapat ke 4:
Gak bisa dibilang rendahan, kayanya. Di bilang gak berguna, mungkin karena orang pikir lapangan kerjanya sempit, tapi gak juga seh. Zaman sekarang, yang penting punya "tiket" S1. Banyak yang pekerjaannya menyimpang dari kuliahnya. Kecuali mungkin untuk bidang pekerjaan yang butuh keahlian atau pengetahuan khusus ya. N jangan salah, di Psikologi, banyak pelajaran biologinya lho. Banyak orang yang gak tahu itu n kaget setelah masuk.
Soal "miring", memang teman2 saya banyak yang bilang, kalau mau tahu tingkat anak psikologi, ukur aja kadar kegilaannya, hehehe... Tapi tergantung orangnya juga seh. Untuk gila mah gak usah masuk psikologi juga bisa ;-)

-----


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...