Senin, 10 Oktober 2011

Kerajaan Pajajaran


Letak : Pakuan Pajajaran, Jawa Barat
Sumber bukti
 
   1. Kitab Carita Parahyangan (abad ke-16) --> salah satu bukti sumber sejarah kerajaan pajajaran.
   2. Kitab Siksakanda (tahun1518) --> mengungkapkan tentang sistem permerintahan di Kerajaan Pajajaran.
   3. Prasasti Sanghyang Tapak --> tentang proses pendirian dan sejarah Pajajaran
Perkembangan :
1. Lahir
Dalam sejarah, kerajaan Pajajaran didirikan pada tahun 923 M oleh Sri Jayabhupati. Nama Pajajaran pernah disebut di dalam prasati yang ditemukan di desa Kebon Kopi, Bogor. Prasaati itu berangka tahun 854 M. Prasasti ini ditulis dengan bahasa melayu kuno. Isinya tentang seorang Rakryan juru pengambat yang menuliskan Raja Pajajaran. Kerajaan ini berpusat di Pakuan, Bogor.      
            2. Berkembang
Raja-raja yang pernah memerintah:
· Sri Jayabhupati
Jayabhupati menyebut dirinya Hajiri Sunda. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan diperkirakan berada di daerah Pakuan Pajajaran dan kemudian pindah ke Kawali.
· Rahyang Niskala Wastu Kencana
Pusat kerjaannya berada di daerah Kawali, Ciamis dan istananya beranama Surawisesa.
· Rahyang Dewa Nikskala
· Sri Baduga Maharaja
Pada masa pemerintahannya terjadi pertempuran besar yang dikenal dengan Perang Bubat tahun 1357. Ia gugur di pertempuran itu.
· Hyang Wuni Sora
· Prabu Niskala Wastu Kencana (1371-1474)
· Tohaan (1475-1482)
Berkedudukan di Galuh.
· Ratu Saminan (1512-1521)
· Prabu Ratu Dewata
Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan dari Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Maulanan Hasanuddin yang dibantu oleh anaknya, Maulana Yusuf.
Kehidupan sosial:
Masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari kegiatan pertanian, terutama perladangan. Bukti tentang masayarakat perladangan itu ditemukan dalam kitab sastra. Kitab sastra zaman Pajajaran menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu yang berkembang dikerajaan tersebut.
Stratifikasi sosial masyarakat Kerajaan Pajajaran digolongkan menjadi empat golongan, yaitu:
· Golongan seniman, seperti pemain gamelan, pemain wayang, dan penari badut
· Golongan petani
· Golongan pedagang
· Golongan penjahat
Kehidupan Ekonomi:
Kerajaan Pajajaran bersumber dari kegiatan pertanian dan perdagangan. Pada umumnya masayarakat Kerajaan Pajajaran yang tinggal di pedalaman hidup dari kegiatan pertanian.
Sedangkan masyarakat yang hidup di daerah pantai dari hasil perdagangan. Mereka sudah melakukan hubungan dagang antardaerah bahkan dengan luar negeri, yaitu dengan para pedagang yang berasal dari Asia Tenggara dan India (Kambay). Barang-barang yang diperdagangkan antara lain: lada, bahan makanan dan bahan pakaian. Mereka sudah mengenal mata uang sebagai alat pembayaran yaitu mata uang Cina.
Ada enam pelabuhan penting di Kerajaan Pajajaran yang berkembang saat itu, yaitu:
· Banten --> Pelabuhan ini menjadi pusat ekspor beras, bahan makan, dan lada.
· Pontang
· Cigede
· Tamgara
· Kelapa --> pelabuhan terpenting dan terbesar
· Cimanuk
Kerajaan Pajajaran juga memiliki jalur lintas perdagangan darat yang cukup penting. Jalan darat itu berpusat di Pakuan Pajajaran, ibu kota kerajaan. Melalui jalan ini, barang-barang yang diperlukan oleh penduduk di daerah pedalaman disalurkan. Dengan demikian, system perekonomian di Kerajaan Pajajaran sudah berkembang dan maju pada saat itu.
Kehidupan Budaya:
Kebudayaan yang berkembang di Kerajaan Pajajaran hamper mirip dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya, yaitu masa Kerajaan Tarumanegara. Hasil kebudayaan yang ditinggalkan tidak banyak diketahui, kemungkinan kebudayaan nonmaterial lebih berkembang, seperti system ekonomi karena berhungan dagang dengan para pedagang asing.
Di samping itu, ada pula hasil budaya berupa karya sastra, seperti kitab Carita Parahyangan (abad ke-16) dan kitab Siksakanda (1518).
Runtuh:
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.
Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
Sumber : Buku Sejarah Kelas XI (Bumi Aksara) dan Paman Gugel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...