Kamis, 08 Juli 2010

Misteri Yang Sudah Lama Terpendam (Bag.5)

Tantangan Untuk Yuri

Kami pun membiarkan Sarah beraksi sendirian, seperti apa maunya hari ini. Dan kami juga membuat diri kami terbebas dari kebohongan, karena kami benar-benar pergi ke taman bermain.

Sesampai di taman bermain.....

“Kya.......” teriakku dan orang-orang lainnya saat naik roller coaster.

Lalu....

“Waw....,” ini saat naik biang lala dan melihat pemandangan sekitar dari atas.

Dan begitulah seterusnya kami bermain dengan senangnya. Kemudian, sampailah kami di depan sebuah tempat yang paling tidak disukai oleh manusia sejenis Yuri. Yaitu..., ‘Rumah Hantu’.

“Ini yang terakhir. Ayo!” ajakku.

“Hei, kau jangan bercanda. Sekarang sudah terlalu sore, kita pulang saja ya. Lain kali ‘kan bisa,” tolak Yuri.

“Katanya nggak takut lagi. Masa’ hantu-hantuan gini aja takut sech? Ayolah...,”

Sebelum Yuri bicara, tiba-tiba saja datang Rian dkk nya.

“Hei, Yuri, Maya! Lagi ragu-ragu mau masuk ke Rumah hantu ya? Aku baru tahu kalau ternyata Maya takut sama hantu. Payah banget ya?” ucapnya mengejek. Dia dari dulu memang suka sekali mengejekku. Dulu waktu kami TK, dia pernah menangis karna aku ejek tukang ngompol.

“Siapa bilang aku takut hantu! Yang takut itu....,” Ups! Aku hampir keceplosan ngomong. Kalau aku katakan bahwa yang takut itu Yuri, maka Yuri akan malu seumur hidup.

“Yang takut itu....?” ucap Rian mengulangi kata-kataku yang terputus itu.

“Yang takut itu... hanya orang-orang seperti kalian! Aku tidak akan takut dengan hal-hal yang tak logis seperi itu. Iya ‘kan Yuri? Kami akan masuk kok,” jawabku.

“Iya! Tadi kami hanya mau istirahat sebentar karna sudah capek menaiki semua permainan yang ada di sini. Yang mengulur-ngulur waktu dengan mengganggu kami yang pasti akan masuk ini kamu ‘kan? Jadi, yang takut itu kalian!” ucap Yuri.

“Takut? Kami? Yang benar saja! Kalau begitu kita buktikan saja, siapa nanti yang berteriak ketakutan,”

“Ok, kami setuju!” jawab Yuri. Wah, bakal seru nich!

Lalu kami mulailah berjalan menelusuri rumah hantu itu. Sejauh ini, hantu-hantu yang muncul masih level c. Jadi, Yuri masih bisa mengatasinya. Ya..., walaupun mukanya sudah pucat. Tapi karena di dalamnya gelap, Rian dkk tidak bisa jelas melihat raut wajah kami bedua. Seperti yang mereka bilang, sampai saat ini mereka masih tertawa saja dengan hantu-hantu yang menurutku memang nggak menakutkan itu.

Sudah lama berjalan, sekarang hantunya sudah level b.

“Maya, aku sudah tidak tahan lagi,” ucap Yuri berbisik.

“Sudah sampai batas ya? Lalu idemu?” tanyaku juga berbisik.

“Begini....” belum selesai Yuri mengajukan ide melarikan dirinya...

“Wuaaaaaa!” teriak salah seorang ‘kaki tangan‘ Rian.

“Kau kenapa bodoh!” bentak Rian.

“Hahaha....... Kau kalah Rian! Yang pertama kali berteriak ketakutan adalah kalian bukan kami. Jadi, ganjarannya apa nich? Disebarkan ke seluruh murid di sekolah?” ucapku.

“Ukh! Gara-gara kau, bodoh! Lakukan apa saja selain yang itu,”

“Ok! Kalau begitu! Teriak keras-keras sambil lari terbirit-birit menuju pintu. Dan tidak boleh curang. Karena kami akan mengikuti kalian dari belakang,” ucapku.

“Baiklah,”

“Aaaaaa!” teriak mereka sampai di ujung lorong rumah hantu. Hal itu membuat Yuri terselamatkan, karena untuk mengikuti mereka kami juga ikut berlari.

Sesampai di luar....

“Terima kasih, Maya. Ide yang bagus,” bisik Yuri padaku.

“Hal yang mudah..,” jawabku.

“Hei! Apa kalian sudah puas? Eh, ngomong-ngomong, kenapa kalian berdua kesini? Biasanya ‘kan ‘mistery terpecahkan’ saat kalian selesai main detective-detectivan. Haha.... Atau.., kalian kencan?” ucap Rian.

“Terserah kami mau kemana dan kenapa,” ucapku.

“Huh!!!” keluh Rian dan dia langsung pergi.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...