Rabu, 07 Juli 2010

Sebuah Dosa (Bag.5)


Ketika kuberlari, di jalan itu, aku melihat sesosok perempuan yang mencari-cari sesuatu. Dia ibu!

“Mia! Mana kakakmu?!? Aku ada perlu dengannya,” bentaknya dengan nada keras. Padahal seharusnya ia minta maaf padaku. Tidakkah ia tahu dari reaksiku tadi, bahwa aku tidak suka dengan ucapannya?

Tidak tepat. Perasaanku sedang kacau. Aku tidak bisa membendungnya. Dan akhirnya, aku benar-benar jadi anak yang durhaka yang sangat berdosa. Aku memakinya.

“Cari saja anak kesayangan ibu itu sendiri. Aku tidak peduli lagi padanya! Dan juga pada ibu! Semua! Aku benci!!!” teriakku dengan napas tersengal-sengal.

“Apa katamu!!”

“Ya, aku muak. Mungkin sekarang ibu sudah puas. Anak yang ibu sayangi itu sudah aku buat down. Aku sudah mengeluarkan semua unek-unekku. Asal ibu tahu, selama ini yang kujadikan sasaran kebencianku adalah kakak. Ibu memarahiku dan aku melimpahkannya pada kakak. Setiap ibu marah padaku, aku semakin benci pada kakak. Padahal kakak tidak tahu apa yang selalu ibu lakukan padaku di belakangnya. Dia amat menyayangiku, tapi aku amat membencinya. Yang seharusnya kubenci itu adalah ibu! Tapi aku malah membenci kakak. Apa ibu tahu semua itu? Kini kakak mungkin sedang menangis, tapi aku tidak peduli!” sambungku. Lalu aku kembali berlari. Berlari tak tahu arah.

Ah, sekarang benar-benar tidak ada lagi tempat pulang bagiku dimana-mana. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus terus berlari? Kemana? Kemana tujuanku? Apa aku harus berlari ke neraka? Ya, tempatku mungkin hanya tinggal di neraka saja. Tempat semua orang-orang durhaka berkumpul. Tempat hina dimana isinya hanya orang-orang penuh dosa. Kekal disana selama-lamanya.

Sudah berapa lama aku berlari? Dimana ini? Apakah ini neraka? Tapi aku tidak menemukan api disini. Disini tanah kosong. Aku sudah berlari sejauh mana?

“Siapa disana?”

Ada orang. Siapa itu? Aku menoleh. Disana aku melihat seseorang yang tak asing lagi bagiku. Dia..., dia adalah teman SD-ku dulu, Rima. Kenapa dia ada disini? Di tempat kosong ini?

“Hei, kau Mia!” ucapnya.

Aku hanya bisa mengangguk.

“Kenapa kau bisa sampai disini? Mukamu pucat. Apa yang telah terjadi? Kau boleh bercerita padaku,” ucapnya lembut. Dia memang terkenal baik di sekolah. Anak yang suka bergaul dan ramah pada siapa saja.

Aku pun secara spontan langsung menceritakan semua yang terjadi dan apa yang aku rasakan sekarang padanya.

Setelah aku menceritakan semuanya. Dia tersenyum seraya berkata, “Syukurlah. Kau beruntung.”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Ya, kau beruntung. Kau masih mempunyai mereka. Perasaan yang kau rasakan, sama seperti apa yang aku rasakan saat itu. Tapi kau lebih beruntung dari pada aku. Kau masih mempunyai kakak yang peduli padamu. Sedangkan aku, saat itu aku benar-benar merasa tak dipedulikan,” Rima mulai bercerita.

“Tapi, memang itu adanya. Ayah dan ibuku benar-benar tidak peduli padaku. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Pergi pagi dan pulang malam. Aku hanya sendirian menunggu mereka pulang. Memang, di rumahku ada pembantu, tapi itu tidak cukup. Yang kubutuhkan adalah mereka,” ia berhenti sebentar dan menerawang.

Kemudian ia kembali bercerita, “Pernah suati hari, aku melarang ayah dan ibuku untuk pergi bekerja agar aku bisa bermain bersama mereka. Tapi, dengan santainya mereka memberiku uang dan tetap pergi meninggalkanku. Aku berpikir mereka tidak menyayangiku. Aku tidak butuh uang, yang aku butuhkan adalah kasih sayang mereka. Merasa harapanku mustahil, terbesit di pikiranku ‘Kalau ayah dan ibu tak peduli padaku, lebih baik mereka mati saja’,” cerita Rima panjang lebar. Aku tidak percaya, Rima yang sebaik dan seramah itu pernah berpikiran sepertiku juga?

“Kau pasti tidak percaya kalau aku pernah berpikiran seperti itu ‘kan?” Ah, dia bisa membaca pikiranku.

“Tapi aku tidak bohong. Aku benar-benar pernah berpikir agar mereka mati saja. Sampai akhirnya, hal itu pun terjadi. Sewaktu ayah dan ibu pergi keluar kota karena ada urusan pekerjaan, pesawat yang mereka naiki mengalami kecelakaan. Tapi sungguh mengherankan, yang meninggal pada kecelakaan itu hanya ayah dan ibuku saja. Aku benar-benar syok. Kenapa hanya ayah dan ibuku saja? Aku sangat menyesal. Aku sangat-sangat menyesal telah berpikiran seperti itu. Dan Tuhan mengabulkannya,” lanjutnya. Air matanya pun mulai menetes membasahi pipinya. Begitu juga denganku. Ternyata masih ada orang yang lebih menderita dariku. Dan aku tidak percaya orang itu adalah Rima. Rima yang dari wajahnya terpancar cahaya kasih sayang.

“Sekarang, aku tinggal bersama kakek dan nenekku. Setelah kejadian itu, selama beberapa hari aku selalu menyendiri, tidak mau makan, dan tidak mau sekolah. Sampai suatu hari nenek menasehatiku. ‘Semua musibah itu terjadi bukan karena salahmu. Semua itu telah diatur oleh Yang di atas agar kamu menjadi anak yang tegar,’ begitu kata beliau padaku. Ternyata masih ada nenek dan Tuhan yang mempedulikanku,” Sungguh banyak yang telah dirasakan oleh Rima. Tapi, semua kejadian itu, bisa merubahnya menjadi pribadi yang seperti ini.

“Dan setelah nenek menasehatiku, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjadi anak yang tegar, selalu ceria, dan juga bisa menjadi tempat curhat dan pemberi solusi yang baik bagi teman-temanku. Karena itulah, aku tidak pernah menunjukkan wajah sedihku kepada teman-teman. Aku ingin menjadi anak yang tegar,”

Aku benar-benar merasa diriku ini bodoh. Bodoh sekali. Mungkin perasaan aneh yang kursakan itu adalah rasa menyesal telah membentak kakak. Tapi, semuanya sudah berakhir. Pasti jika aku tidak ada, hidup ibu, ayah dan kakak akan lebih baik.

“Mia! Coba kutebak. Pasti sekarang kau merasa semuanya sudah berakhir bukan? Kau berpikir, tanpa dirimu, keluargamu pasti akan lebih baik,”

Iya, benar.

“Tapi kau salah besar, Mia. Pada awal tanggapanku tentang masalahmu, aku berkata ‘Syukurlah’ bukan? Itu berarti semuanya belum terlambat. Kau masih bisa memperbaikinya. Tidak ada yang salah jika seseorang mengeluarkan apa perasaan yang sesungguhnya ia rasakan. Itu malah bagus. Ibu dan kakakmu juga pasti akan menyadarinya dan memberi pertimbangan padamu. Sekarang yang kau butuhkan adalah keberanian untuk meluruskan semuanya. Sebelumnya, kau bicara pada mereka dengan perasaan tidak tenang. Tapi kali ini, kau harus bicara baik-baik pada mereka. Jika suatu masalah dibicarakan baik-baik, niscaya masalah tersebut pasti akan teratasi dengan baik pula,” Rima menasehatiku.

Benar juga yang dikatakan Rima. Selama ini aku memendam semuanya sendirian. Makanya masalah ini jadi menumpuk. Coba dari awal aku membicarakannya, pasti sudah selesai dari dulu-dulu. Rima, kau benar-benar tempat berbagi perasaan yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...